Musim Angin Selatan, Nelayan Bintan Alami Masa Panceklik

KABARTIGA, BINTAN – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau menyatakan nelayan tradisional di daerah tersebut mengalami masa panceklik bertepatan dengan musim angin selatan.

Ketua KNTI Bintan Syukur Hariyanto alias Buyung Adly, di Bintan, Kamis (19/08), mengatakan, nelayan tidak berani melaut karena gelombang laut tinggi disertai dengan angin sehingga membahayakan keselamatan mereka.

Nelayan tradisional hanya berani melaut tidak jauh dari bibir pantai. Hasilnya hanya ikan berupa ikan-ikan kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini menyebabkan ikan langkah di pasar tradisional di Bintan maupun Tanjungpinang.

“Dalam kondisi gelombang dan cuaca normal, nelayan kami bisa melaut sampai ke Natuna, Anambas, perbatasan Malaysia, dan Kalimantan. Tetapi sekarang tidak memungkinkan,” ujarnya.

Menurut dia, gelombang laut tinggi mungkin terjadi menjelang perubahan hingga musim angin utara. Gelombang laut saat musim angin utara, terutama di perairan Natuna dan Anambas bisa mencapai 5-7 meter. Begitu pula perairan di perbatasan Bintan dengan Malaysia, sehingga nelayan yang hanya menggunakan kapal kecil tidak mampu melaut.

Musim angin utara biasanya terjadi pada November-Januari.

“Sudah banyak nelayan maupun warga yang memancing ikan di perairan yang menjadi korban,” ucapnya.

Buyung mengatakan biasanya memancing memperbaiki alat tangkap ikan seperti jaring dan kapal saat tidak melaut. sejumlah nelayan yang memiliki sedikit lahan perkebunan, biasanya berkebun.

“Kalau mereka tidak melaut, berarti beraktivitas di darat. Ini masa-masa sulit bagi mereka yang tidak memiliki uang yang cukup,” katanya.

Salah seorang pedagang ikan di Tanjungpinang, Ali, mengatakan, ikan mulai langka sejak akhir Juli 2021. Harga ikan pun ikut naik bila ikan langka.

“Setiap tahun seperti ini,” tuturnya.(Red/Humas)

Pos terkait