Dampak Harga Sawit Murah, Petani Enggan Melakukan Aktifitas Panen

KABARTIGA, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung mengatakan, anjloknya harga tandan buah segar (TBS) memicu persoalan baru bagi keluarga petani yang bergantung pada sawit. Pasalnya, harga yang rendah membuat petani enggan melakukan pemanenan.

Harga yang diterima petani, menurut Gulat, lebih rendah dari biaya yang harus dikeluarkan untuk upah memanen hingga pengiriman. Kondisi ini, ujarnya, bisa memicu turbulensi karena petani dan pekerja di lahan sawit akan semakin terbatas sumber pendapatannya.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Undang Ekonom Senior, Mendag Ajak Wujudkan Ekonomi Berkeadilan

“Mereka nggak bekerja lagi atau jadi pengangguran. Tidak ada lagi pendapatan, nggak ada aktifitas ekonomi, dan ini akan terakumulasi dan memicu masalah keamanan dan ketertiban masyarakat,” kata Gulat kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (11/7/2022).

“Saya memang tak punya angka statistik berapa yang jadi pengangguran, tapi bisa terlihat dari kondisi di kedai kopi sekarang,” tambah Gulat.

Dia menuturkan, sebelum harga TBS anjlok seperti beberapa bulan terakhir, kedai kopi di sekitar kebun sawit tak pernah ramai.

“Biasanya kosong, tapi ini kedai-kedai kopi itu penuh. Namanya memang kedai kopi, tapi nggak ada kopi di meja. Artinya, mereka hanya nongkrong di situ, ngobrol doang. Dari situ kelihatan mereka nggak bekerja. Yang tadinya mereka bisa dapat upah Rp200-250 per hari, sekarang jadi Rp100 ribu, orang nggak mau kerja. Risikonya, petani nggak lagi memanen,” ungkap Gulat.

Gulat memaparkan, harga TBS yang ditetapkan oleh Dinas Perkebunan adalah Rp2.392 per kg, ini rata-rata terhadap 22 provinsi penghasil sawit.

Namun, harga riil pembelian di tingkat petani lebih rendah dan turun terus. Dimana, harga TBS sebelum larangan ekspor mencapai Rp4.250 per kg.

Dimana, harga pembelian per kilogram TBS pada 4 Juli 2022 rata-rata Rp916 di petani swadaya dan Rp1.259 di petani plasma/ bermitra.

Pada 5 Juli 2022, harga itu turun menjadi Rp898 di petani swadaya dan Rp1.236 di petani bermitra/ plasma. Harga kembali turun pada 6 Juli 2022, menjadi Rp811 di petani swadaya dan Rp1.200 di petani mitra/ plasma.

Sumber: CNBCIndonesia

Pos terkait