Peneliti BRIN Ungkap Dampak Pembakaran Sampah Terbuka Bagi Kesehatan dan Lingkungan

Ilustrasi pemakaran sampah secara terbuka. Foto: Albet

KABARTIGA.ID, Jakarta – Peneliti ahli dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sumaryati menyebutkan meningkatnya populasi dan aktivitas manusia, jumlah dan variasi limbah yang dihasilkan juga semakin meningkat.

“Jumlah sampah yang terus bertambah tidak dapat terurai secara alami, menyebabkan penumpukan,” ungkap Sumaryati dalam pernyataannya yang dikutip dari laman BRIN pada Minggu (14/1/2024).

Bacaan Lainnya

“Sayangnya, pengelolaan limbah saat ini belum mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak,” sambungnya.

Pada Kolokium Mingguan PRIMA di Bandung pada Kamis (11/1/2024), Sumaryati menjelaskan bahwa berdasarkan riset yang dilakukannya, pengelolaan limbah secara sehat saat ini masih kurang mendapat perhatian sebagai prioritas atau bagian dari political will.

Menurutnya, pengelolaan sampah di perkotaan terutama masih mengandalkan sistem open dumping.

“Sistem open dumping dilakukan karena murah dan mudah. Di daerah-daerah berbentuk cekungan yang jauh dari pemukiman, open dumping dianggap sebagai tempat yang layak untuk pembuangan sampah,” tuturnya.

Dari segi estetika, sistem open dumping menciptakan dampak kumuh terhadap lingkungan. Sumaryati menegaskan bahwa hal ini dapat mengancam kesehatan lingkungan karena limbah, bau, dan kehadiran berbagai vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, kecoa, tikus, dan sebagainya.

Lebih lanjut, Sumaryati menjelaskan bahwa proses dekomposisi dalam sistem open dumping menghasilkan limbah cair yang mencemari air dan tanah. Limbah cair tersebut juga menjadi polusi udara signifikan karena bau yang menguap ke udara secara terbuka.

Ia menyatakan bahwa situasi ini bisa semakin buruk ketika terjadi kebakaran atau pembakaran sampah.

“Sampah menghasilkan gas metana. Dalam kondisi kering, gas metana ini mudah terbakar dan menciptakan polusi udara yang luar biasa,” tegasnya.

Sumaryati menekankan bahwa pembakaran yang tidak sempurna dapat menyebabkan emisi gas berbahaya. Gas buang dari pembakaran sampah, terutama gas metana, dapat mengalami reaksi yang kompleks dan berdampak buruk pada lingkungan.

Selain itu, Sumaryati mengingatkan bahwa gas non metana hidrokarbon yang dihasilkan dari pembakaran sampah mengandung polutan yang dapat merusak kromosom, menyebabkan kanker, mengganggu pertumbuhan janin, dan merugikan sistem kekebalan tubuh.

Dengan merujuk pada desain incinerator yang ideal dari Diego Moya 2017, Sumaryati memberikan perbandingan antara pembakaran sampah melalui sistem incinerator dan pembakaran terbuka.

Ia menyebutkan bahwa pembakaran melalui incinerator dilakukan secara terkendali dengan pasokan oksigen yang cukup, suhu tinggi, dan menghasilkan pembakaran yang hampir sempurna dengan tingkat CO2 yang tinggi.

“Gas buang melalui electrostatic precipitator akan difilter untuk menghilangkan partikulat dan dialirkan melalui scrubber untuk menyerap polutan asam, sebelum dilepaskan ke atmosfer,” tambahnya.

Sebagai catatan, insinerasi merupakan teknologi pengolahan sampah yang melibatkan pembakaran bahan organik, menghasilkan abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas.

Penulis/Editor: Albet

Pos terkait