OPINI – Akhir-akhir ini saya fokus kepada kegiatan menulis yang temanya konsen ke Pulau Sumatera. Di dalam diri saya, rasanya ada yang kurang ketika perjalanan ke Kuala Kapuas dari tanggal 15 sampai 24 Januari 2023 lalu belum direkam sama sekali di layar monitor.
Saya ingat persis tanggal 5 Januari 2023, adalah hari terakhir lawatan saya di Pulau Sumatera yang hampir sebulan: 26 hari. Di waktu pamungkas itu, saya sedang dalam perjalanan pulang, dari Bengkulu menuju Jakarta. Tiba-tiba saya menerima pesan whatsapp dari seorang pengurus HMI Badan Koordinasi Kalimantan Selatan-Tengah: “master Dino namamu tercantum dalam rekomendasi pengelola LK2 Kuala Kapuas”. Saya bingung, karena belum pernah ada komunikasi sebelumnya. Ini seperti ditembak, tetapi teman saya ini mungkin menahu, mengenai spirit dan komitmen saya terhadap perkaderan.
“Sorry ter, tapi tanggal segitu bertabrakan dengan jadwal aku ngelola di Mojokerto” balas saya.
“Coba minta tolong aja ke teman-teman Korwil terdekat” saran saya.
“Harus dari BPL PB ter ” respon teman saya itu.
Saya berpikir keras, hasilnya, saya batalkan agenda mengelola LK2 HMI Mojokerto, dan tentu saya membantu mencari alternatif orang lain untuk menggantikan saya di sana.
“Okelah, fix aku ke Kuala Kapuas” saya membuat keputusan secara matang.
Beberapa menit kemudian, saya dihubungi sebuah nomor baru.
“Assalamualaikum master. Saya Ariadi, Ketum HMI Cabang Kuala Kapuas”.
Ketua Umum yang gesit itu meminta waktu kepada saya untuk menelepon di malam hari, tetapi saya masih dalam perjalanan, yang terjadwal akan tiba di Jakarta esok pagi. Maka kami bersepakat untuk berbicara di malam berikutnya.
Saya kembali merenung, mengenai perjalanan ke depan: saya memiliki phobia naik pesawat. Olehnya itu, di bulan September, ketika saya menjadi bagian dari pengelola LK3 HMI Badko Kalimantan Selatan-Tengah di Banjarbaru, saya kembali ke Jakarta menggunakan kapal dan bus via Surabaya. Hal itu juga yang membuat perjalanan saya ke Sumatera Utara dalam rangka mengelola LK2 HMI Cabang Labuhanbatu Raya dengan bus, meskipun ditempuh dalam waktu yang relatif lama. Namun tentu saja, phobia harus saya lawan.
Komunikasi saya dengan Ariadi terus mengalir. Outputnya, saya menyiapkan ToR screening dan ToR sebuah materi. Saya juga baru bisa bergabung di tanggal 16, sehingga tak bisa terlibat langsung di dalam proses screening. Jua komunikasi terkait keberangkatan saya ke Kalimantan.
Di tanggal 15, di pukul 7 malam, saya melewati waktu 1 setengah jam di dalam pesawat Batik Air. Saya kembali ke tempat yang beberapa bulan lalu saya pernah berada di situ: Bandara Syamsuddin Noor. Saya menunggu sekitar 1 jam di bandara, menunggu dijemput Ketua Umum BPL HMI Cabang Banjarmasin: Gilang Ramadan. Dari Banjarbaru, kami bergegas menuju Kuala Kapuas, sekitar 2 jam dalam perjalanan.
Setiba di Kuala Kapuas, saya disambut oleh Ariadi dan Direktur Eksekutif Lapmi HMI Cabang Palangkaraya, Andrian. Saya dan Andrian memang berkomunikasi intens, karena intelektualitas Kapuas mengalir di nadinya, sehingga ia pun ikut membantu proses screening yang dilakukan.
Kuala Kapuas, Kota Air
Sesuai pengamatan saya, wilayah-wilayah Kalimantan yang pernah saya singgahi dianugerahi jenis tanah gambut (saya pernah menulis mengenai Banjarmasin, Kota Seribu Sungai). Dalam perjalanan bersama Gilang, setiba di sudut-sudut Kota Kuala Kapuas, terdapat tulisan yang menegaskan bahwa Kuala Kapuas dijuluki Kota Air. Alih-alih terlepas dari aspek geografis, saya menemukan maksud air yang lain, yang lebih filosofis dan menggugah: Aman, Indah dan Ramah (AIR).
Mengenai Aman, nuansa Kuala Kapuas sangat kental tradisi keislaman, di mana yang tampak oleh saya adalah pengajian rutin dalam gelombang masa yang besar. Kultur ini kemudian turut menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Terkait Indah, Kuala Kapuas memiliki alam yang menakjubkan menurut saya. Estetikanya wilayah tersebut semakin jelas saat senjaka di tepi Sungai Kapuas: hening dan damai. Kami pernah ke sana, menikmati durian dan aneka jajanan lainnya. Terlepas dari alam yang terbentuk secara spontan, tata kotanya juga begitu rapi, ditambah lagi monumen berupa icon-icon daerah yang berjejeran.
Menyangkut Ramah, nilai humanisme ini tercermin dari tutur dan senyuman yang bebas dilepaskan oleh orang-orang di sana. Dari senior, panitia dan peserta yang berasal dari Kuala Kapuas, menunjukkan kesahajaan mendalam. Terutama Ariadi, keramahan dan ketulusan darinya, tanpa hiperbola saya sebutkan ia sebagai role model pemimpin yang ideal. Di samping kecerdasan yang dimiliki: Ariadi adalah bagian dari penyelenggara Pemilu di kecamatannya, ia termuda.
Hanasta
Hanasta adalah nama dari angkatan Intermediate Training (LK2) HMI Cabang Kuala Kapuas 2023. Hanasta berarti menguasai, nama yang diambil dari bahasa paling purba Indonesia: bahasa Sansekerta. Mereka berjumlahkan 31 orang, jumlah ini sama persis dengan jumlah Sitabas31, yang pernah saya kelola di forum yang sama satu bulan sebelumnya di Sumatera Utara.
Hanasta muncul beberapa hari setelah forum berjalan, saya menekan mereka untuk memunculkan kreativitas: Hanasta tiba, bersamaan dengan yel-yel yang direvisi sekali. Pemimpin dari Hanasta terdiri dari Kepala Suku dan Ibu Kepala Suku: masing-masing mereka adalah Sigit alias Bombom dan Vani, yang kebenarannya mereka berdua berasal dari HMI Cabang Palangkaraya.
Namun terlepas dari 2 orang tersebut, salah 1 yang tampak aktif dalam menghegemoni keceriaan yakni Izra dari Banjarbaru.
Afdal merupakan peserta yang datang dari tempat paling jauh: Tolitoli, Sulawesi Tengah. Ia berada d Kalimantan dari bulan Desember sampai Januari, sehingga menurut candaan yang berkeliaran, Afdal telah berada di Kalimantan selama 1 tahun. Namun saya meyakini, tentu segudang pengalaman dan ilmu telah ia peroleh, yang membawanya menjadi peserta terbaik di training tersebut. Terlepas dari itu, sejatinya, semua yang tergabung dalam Hanasta adalah yang terbaik, karena punya kekuatan masing-masing untuk dikembangkan lagi ke depannya.
Meskipun sumber daya pengelola secara kuantitas sangat terbatas: saya, Zia dan Gilang, dibantu juga oleh Faid. Mereka semua berasal dari Banjarmasin. Kami punya antusiasme yang tinggi untuk memberikan yang terbaik kepada rekan-rekan Hanasta.
Di akhir forum, saya dengan penuh canda tawa menyampaikan perjalanan karir saya di HMI.
“Sekian sejarah perjuangan master Dino. Mohon maaf sebelumnya, kalau ada yang termotivasi Alhamdulillah, ada yang tidak termotivasi pun Alhamdulillah” ucap saya seraya tertawa hemat. Kemudian teman-teman Hanasta menyambutnya dengan tepukan tangan meriah.
Harapan-harapan saya utarakan, bahwa proses perkaderan sifatnya berkelanjutan. Proses itulah yang membedakan antara kader HMI dan anggota HMI. Dan salah 1 harapan yang saya sampaikan ketika itu, teman-teman Hanasta seyogianya adalah yang berangkat mengikuti Senior Course, sehingga kelak, Insyaallah ada kalanya forum kami kelola bersama-sama: dari peserta dan pemandu, menjadi sesama pemandu.
Di tanggal 23 petang, saya dan Ariadi berangkat menuju Banjarbaru. Di sana kami disambut oleh Ketua Umum Cabang, dan rekan-rekan Hanasta yang sudah kembali sehari sebelumnya. Saya tidak tercengang, bahwa mereka adalah orang-orang yang duduk di struktural cabang: ada Riwut, Tari, Gilang, Rivai, Izra dan Reza. Beberapa waktu kemudian, turut hadir Raudah, disusul Murmaidah dan Aura: Raudah dan Murmaidah adalah peserta LK3 bulan September lalu.
Kami bercerita, mengenai resesi, dan mengangkat hal-hal jenaka berkesan selama di forum training. Sembari menikmati terang bulan (martabak) dan gorengan yang dibawa dari luar. Terdapat jua pembahasan serius tapi santai, menyangkut pelaksanaan training raya yang direncanakan oleh rekan-rekan HMI Cabang Banjarbaru dalam waktu dekat.
Akhirnya, di pagi sekali, mereka mengantarkan saya ke bandara yang jaraknya tak jauh. Di sana Mustofa, seorang anggota Hanasta itu sudah menunggu. Saya teramat bahagia, atas pemberian sarung songket khas Banjar darinya kepada saya.
Saya terkesan, bahwa Banjar adalah tempat ketidakterdugaan, yang sewaktu-waktu mengisi perjumpaan dengan kehangatan dan ketulusan.
