KABARTIGA, JAKARTA – Mengalami “overdosis’ suplemen vitamin D adalah mungkin dan itu berbahaya, menurut para dokter dalam jurnal BMJ Case Reports. Peringatan tersebut dikeluarkan setelah mereka merawat seorang pria di rumah sakit karena asupan vitamin D-nya yang berlebihan.
Kasus ini menyangkut seorang pria paruh baya yang dirujuk ke rumah sakit oleh dokter keluarganya setelah mengeluh muntah berulang, mual, sakit perut, kram kaki, tinitus (telinga berdenging), mulut kering, rasa haus yang meningkat, diare, dan penurunan berat badan 12,7 kg, seperti dikutip dari Medical Xpress, Rabu (6/7/2022).
Baca Juga: Penyebab Asam Urat dan Cara Mengatasinya, Perbaiki Gaya Hidup
Para dokter melaporkan bahwa dia telah mengonsumsi lebih dari 20 suplemen dosis tinggi yang dijual bebas setiap hari yang mengandung: vitamin D 50000 mg—kebutuhan harian adalah 600 mg atau 400 IU; vitamin K2 100 mg (kebutuhan harian 100–300 g); vitamin C, vitamin B9 (folat) 1000 mg (kebutuhan harian 400 g); vitamin B2 (riboflavin), vitamin B6, omega-3 2000 mg dua kali sehari (kebutuhan harian 200-500 mg), ditambah beberapa suplemen vitamin, mineral, nutrisi, dan probiotik lainnya.
Gejala-gejala ini telah berlangsung selama hampir 3 bulan, dan telah dimulai sekitar 1 bulan setelah ia memulai mengonsumsi suplemen vitamin intensif atas saran ahli terapi nutrisi.
Pria itu memiliki berbagai masalah kesehatan, termasuk TBC, tumor telinga bagian dalam (schwannoma vestibular kiri), yang mengakibatkan ketulian di telinga itu, penumpukan cairan di otak (hidrosefalus), meningitis bakteri, dan sinusitis kronis.
Begitu gejalanya berkembang, dia berhenti minum campuran suplemen hariannya, tetapi gejalanya tidak hilang.
Hasil tes darah yang diperintahkan oleh dokter keluarganya mengungkapkan bahwa ia memiliki kadar kalsium yang sangat tinggi dan kadar magnesium yang sedikit meningkat. Dan tingkat vitamin D-nya 7 kali lipat dari tingkat yang dibutuhkan sesuai kecukupan.
Tes juga menunjukkan bahwa ginjalnya tidak bekerja dengan baik (cedera ginjal akut). Hasil berbagai X-ray dan scan untuk memeriksa adanya kanker menunjukkan tanda normal.
Pria itu tinggal di rumah sakit selama 8 hari, selama waktu itu dia diberi cairan infus untuk membersihkan sistemnya dan diobati dengan bifosfonat—obat yang biasanya digunakan untuk memperkuat tulang atau menurunkan kadar kalsium yang berlebihan dalam darah.
Dua bulan setelah keluar dari rumah sakit, kadar kalsiumnya kembali normal, tetapi kadar vitamin D-nya masih sangat tinggi.
“Secara global, ada tren hipervitaminosis D yang berkembang, suatu kondisi klinis yang ditandai dengan peningkatan kadar serum vitamin D3,” ungkap para penulis, dengan wanita, anak-anak dan pasien bedah yang paling mungkin terpengaruh.
Kadar vitamin D yang direkomendasikan dapat diperoleh dari makanan (misalnya jamur liar, minyak ikan berminyak), dari paparan sinar matahari, dan suplemen.
“Mengingat pergantiannya yang lambat (waktu paruh sekitar 2 bulan), di mana toksisitas vitamin D berkembang, gejalanya dapat berlangsung sampai beberapa minggu,” para penulis memperingatkan.
Gejala hipervitaminosis D banyak dan beragam, kata mereka, dan sebagian besar disebabkan oleh kelebihan kalsium dalam darah. Gejalanya tersebut termasuk mengantuk, kebingungan, apatis, psikosis, depresi, pingsan, koma, anoreksia, sakit perut, muntah, sembelit, tukak lambung, pankreatitis, tekanan darah tinggi, irama jantung abnormal, dan kelainan ginjal, termasuk gagal ginjal.
Gejala terkait lainnya, seperti keratopati (penyakit mata inflamasi), kekakuan sendi (artralgia), dan gangguan pendengaran atau tuli, juga ada dilaporkan, tambah mereka.
Penulis mengatakan terapi komplementer, termasuk penggunaan suplemen makanan, sangatlah populer, dan orangorang mungkin tidak menyadari kemungkinan overdosis vitamin D, atau konsekuensi potensi dari mengonsumsinya.
“Laporan kasus ini lebih lanjut menyoroti potensi toksisitas suplemen yang sebagian besar dianggap aman sampai dikonsumsi dalam jumlah yang tidak aman atau dalam kombinasi yang tidak aman,” kata mereka menyimpulkan.
BMJ adalah jurnal medis akses terbuka terkemuka dari Inggris dan sebagian dengan penilaian sejawat. Sebelumnya, jurnal ini dikenal dengan nama British Medical Journal, kemudian disingkat menjadi BMJ.
Sumber: rri.co.id











