Teriak Maling dari Bawah, Teriak Mafia dari Atas: Korupsi Bukan Monopoli Elit

KABARTIGA.ID – Di negeri ini, suara lantang dari jalanan kerap menggema: “Tangkap koruptor! Hukum pejabat maling uang rakyat!” Seruan moral dari rakyat jelata yang lelah dengan ketidakadilan. Tapi apakah jeritan itu datang dari hati yang bersih? Ataukah hanya gema dari ruang penuh ilusi bahwa korupsi hanya milik kalangan atas?

Nyatanya, korupsi bukan eksklusif milik elite politik dan penguasa. Ia telah menjalar, menetes perlahan hingga ke akar rumput. Dari atas hingga ke bawah, dari istana sampai ke pos ronda, budaya mengakali sistem telah mengakar. Jika korupsi ibarat pohon, maka akarnya tumbuh subur di bawah, sementara buah busuknya dipetik di atas.

Korupsi Seribu Rupiah dan Seribu Muka

Di desa, proyek paving block bisa dikorup. Dana bantuan sosial bisa dipotong dengan dalih “biaya operasional.” Di sekolah, pungutan liar berkedok sumbangan masih terjadi. Di kantor kelurahan, surat menyurat bisa lebih cepat asal “ada rokoknya.” Ini bukan cerita karangan; ini realita yang dibisiki dengan kalimat klasik, “biasa bang, namanya juga orang lapangan.”

Ironisnya, ketika berita korupsi miliaran rupiah mencuat, rakyat bawah ramai-ramai mengutuk. Tapi ketika menerima “jatah amplop” jelang pemilu, mereka berbaris tertib. Dalam satu waktu mereka jadi korban, di waktu lain jadi pelaku kecil-kecilan.

Ketika Moralitas Jadi Mainan Musiman

Kita hidup dalam masyarakat yang gemar bermain moral musiman. Saat musim kampanye, rakyat menuntut pemimpin bersih. Tapi setelah pemilu usai, mereka akan maklum bila sang pemimpin “balik modal.”

Ini bukan soal miskin atau kaya. Ini soal nilai dan pembiasaan. Korupsi bukan hanya transaksi uang; ia adalah transaksi nurani. Mulai dari yang mencuri anggaran miliaran sampai yang menggelembungkan kuitansi bensin, semuanya satu penyakit: mental ingin untung tanpa etika.

Mengapa yang Kecil Takut Diadili, yang Besar Malah Diarak?

Yang mencuri semen pembangunan masjid dipermalukan warga. Tapi yang mencuri dana desa ratusan juta, malah dimediasi tokoh masyarakat. Kita menciptakan kasta dalam dosa. Seolah-olah dosa kecil wajib dihukum, sementara dosa besar cukup diselesaikan dengan “pengertian.”

Apakah kita akan terus begitu? Meneriakkan “maling!” ke atas, tapi diam saat melihat “kebocoran” di sekitar kita?

Bersih Itu Harus Kolektif

Jika kita ingin negeri ini bebas dari korupsi, maka pembersihannya harus dari dua arah: dari atas dan dari bawah. Elite harus diawasi, tapi akar rumput pun harus dididik. Jangan hanya bicara soal reformasi di Senayan, tapi bisikkan juga integritas di warung kopi.

Karena jika yang bawah diam-diam mengambil, dan yang atas terang-terangan mencuri, maka negeri ini bukan lagi rumah hukum, tapi pasar bebas dosa.

Mari berhenti bermain peran. Jangan teriak “mafia!” dari istana, dan jangan pula teriak “maling!” dari gang sempit. Kalau pada akhirnya, kita semua ikut mencuri dengan cara masing-masing.

Pos terkait