KABARTIGA.ID – Kita pandai mengibarkan bendera, tetapi sering lupa mengibarkan hati. Jalan-jalan dipenuhi warna merah putih, sementara jiwa-jiwa masih sibuk menjahit keluhan menjadi pakaian kebanggaan.
Ada yang mengaku hidup di negeri merdeka, tetapi setiap pagi menjadikan syukur sebagai barang langka. Nikmat dianggap biasa, pengorbanan para pendahulu dianggap cerita usang, dan kemerdekaan diperlakukan layaknya udara: baru dicari ketika mulai sesak.
Ironisnya, sebagian orang paling lantang meneriakkan cinta tanah air justru menjadi yang paling rajin menghina negeri tanpa pernah ikut memperbaikinya. Lidah mereka lebih tajam daripada cangkul, tetapi tak pernah menanam apa pun selain kecewa. Mereka ingin memetik buah dari pohon yang tak pernah mereka sirami.
Kemerdekaan bukan sekadar hak untuk mengkritik. Kemerdekaan adalah keberanian untuk bertanggung jawab. Sebab kritik tanpa tindakan hanyalah gema yang memantul di dinding ego.
Betapa lucunya manusia. Mereka bebas berjalan ke mana saja, tetapi tetap menjadi tawanan keserakahan. Bebas berbicara, tetapi mulutnya dipenuhi umpatan. Bebas bermimpi, tetapi pikirannya dikurung oleh rasa iri. Mereka menyebut dirinya merdeka, padahal yang mereka pelihara hanyalah penjara yang mereka bangun sendiri.
Mungkin negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah hati yang tahu cara bersyukur. Sebab orang yang tak pernah bersyukur akan selalu merasa dijajah oleh keadaan, meskipun seluruh pintu telah terbuka untuknya.
Kemerdekaan sejati lahir ketika hati berhenti menghitung apa yang belum dimiliki, lalu mulai menjaga apa yang telah diwariskan. Sebab bangsa tidak hanya runtuh oleh penjajah yang datang dari luar, tetapi juga oleh rakyat yang lupa menghargai arti kemerdekaan itu sendiri.
