KABARTIGA.ID, Jakarta – Sejak menjabat pada 2014, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama untuk mewujudkan konektivitas nasional dan pemerataan pertumbuhan ekonomi.
Selama satu dekade terakhir, kebijakan tersebut telah mencatat berbagai pencapaian signifikan, terutama di sektor jalan tol dan jalan nasional, yang berdampak langsung pada efisiensi logistik dan aksesibilitas antarwilayah.
Berdasarkan data yang dihimpun InfoPublik pada Jumat (27/9/2024) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, hingga tahun 2023 telah terbangun 2.050 kilometer jalan tol serta 6.000 kilometer jalan nasional baru.
Jalan Tol: 2.050 Kilometer Menghubungkan Nusantara
Salah satu pencapaian terbesar dalam periode ini adalah pembangunan lebih dari 2.050 km jalan tol dari tahun 2015 hingga 2023, dengan target tambahan 650 km pada akhir 2024.
Proyek strategis yang tercakup dalam pencapaian tersebut antara lain Tol Trans-Jawa dan Tol Trans-Sumatra. Tol Trans-Jawa, sepanjang 1.167 km, berhasil memangkas waktu tempuh antara Merak dan Banyuwangi, mempercepat distribusi barang dan meningkatkan efisiensi logistik.
Sementara itu, Tol Trans-Sumatra, yang telah menghubungkan lebih dari 1.100 km, memainkan peran krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatra, terutama dalam memfasilitasi pengangkutan komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, dan batu bara.
Di luar Jawa dan Sumatra, pembangunan tol juga merambah Kalimantan dan Sulawesi. Proyek-proyek seperti Tol Balikpapan-Samarinda (99 km) dan Tol Manado-Bitung (39 km) telah mempercepat akses antarprovinsi dan memperkuat konektivitas di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Jalan Nasional: Memperkuat Perbatasan dan Daerah Terpencil
Selain jalan tol, pemerintahan Jokowi juga fokus pada pengembangan jalan nasional, dengan lebih dari 6.000 km jalan baru yang telah terbangun hingga 2023. Proyek-proyek jalan nasional ini termasuk pengembangan infrastruktur di daerah perbatasan, seperti Jalan Lintas Papua yang kini telah tersambung sepanjang lebih dari 3.000 km, meningkatkan mobilitas di wilayah-wilayah terpencil.
Proyek Jalan Perbatasan Kalimantan yang membentang sepanjang 1.900 km tidak hanya meningkatkan akses antarwilayah tetapi juga memperkuat keamanan nasional di perbatasan dengan Malaysia. Jalur ini memperlancar arus barang dan orang, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan yang sebelumnya terisolasi.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Laporan dari Kementerian PUPR dan BPS menunjukkan bahwa dampak dari pembangunan infrastruktur ini terasa dalam bentuk percepatan waktu tempuh dan penurunan biaya logistik. Pada tahun 2015, waktu tempuh rata-rata per 100 km mencapai 2,7 jam. Namun, berkat peningkatan infrastruktur, angka tersebut turun menjadi 2,16 jam pada 2023.
Pengurangan waktu tempuh ini berarti distribusi barang menjadi lebih cepat, efisiensi ekonomi meningkat, dan akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan di wilayah terpencil menjadi lebih mudah.
Pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan ini juga diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi ke daerah-daerah baru, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat sektor-sektor ekonomi lokal seperti pertanian, pariwisata, dan industri.
Fondasi Pertumbuhan Ekonomi di Masa Depan
Selama satu dekade kepemimpinannya, Presiden Jokowi telah berhasil memperkuat infrastruktur jalan tol dan jalan nasional sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.
Meskipun masih ada tantangan, seperti penurunan biaya logistik yang belum optimal, pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan terbukti membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas dan diharapkan akan terus menjadi landasan bagi kemajuan ekonomi Indonesia di masa depan.
Penulis/Editor: Albet











