Kepri Menatap Singapura: Mungkinkah Indonesia Ambil Alih Jalur Kontainer Dunia?

KABARTIGA.ID, Tanjungpinang – Tak jauh dari perairan Batam, Singapura mencatatkan rekor baru sebagai pelabuhan peti kemas tersibuk di dunia. Lebih dari 41 juta TEU kontainer ditangani sepanjang tahun 2024. Bahkan, hanya dalam empat bulan pertama 2025, throughput pelabuhan negara-kota itu sudah mencapai 14,18 juta TEU, naik signifikan dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, Indonesia dengan potensi laut yang luas dan ribuan pulau. Masih tertinggal jauh. Total kontainer yang ditangani seluruh pelabuhan nasional masih berkisar 12 jutaan TEU per tahun. Dan yang lebih menarik: Kepulauan Riau (Kepri) sebagai provinsi terdekat dengan Singapura, justru belum tampil sebagai penantang serius.

Kepri: Dari Hinterland Menjadi Pemain Utama?

Kepulauan Riau selama ini dikenal sebagai kawasan industri ringan, pariwisata, dan penyangga ekonomi Batam-Bintan. Tapi jika dilihat dari peta perdagangan global, Kepri sesungguhnya duduk di jalur emas: hanya beberapa mil laut dari Pelabuhan Singapura.

Dengan pelabuhan Batu Ampar, Kabil, dan akses ke Tanjung Sauh serta Tanjung Balai Karimun, Kepri sebenarnya menyimpan potensi besar menjadi hub logistik alternatif. Sayangnya, belum ada integrasi sistem, investasi serius, atau visi strategis yang mendukungnya.

Saat Singapura melesat membangun Tuas Mega Port berteknologi otomatisasi dengan target 65 juta TEU per tahun, kita masih bicara soal administrasi, perizinan, dan kejelasan status tata ruang pelabuhan.

Peran Pemerintah Kepri: Menunggu atau Memimpin?

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih strategis. Pertama, Kepri bisa mendorong agar seluruh pelabuhan di wilayahnya, dari pelabuhan besar hingga pelabuhan kecil antar pulau, disatukan dalam satu sistem digital yang terintegrasi. Langkah ini akan menghilangkan duplikasi fungsi dan meningkatkan efisiensi distribusi barang.

Kedua, pemerintah daerah dapat mengusulkan pembentukan zona logistik khusus di Batam atau Bintan dengan sistem kepabeanan yang modern, cepat, dan transparan. Ini akan menjadikan Kepri lebih kompetitif dibandingkan Singapura, yang selama ini unggul di aspek kecepatan layanan.

Selain itu, Pemerintah Kepri juga memiliki peluang untuk menggandeng mitra global, seperti Jepang, Korea Selatan, atau Uni Emirat Arab, dalam membangun dan mengelola pelabuhan masa depan. Tak perlu selalu bergantung pada pemerintah pusat, kemitraan strategis dengan sektor swasta internasional bisa membuka lompatan besar.

Terakhir, Kepri perlu mengubah cara pandang terhadap pelabuhan. Bukan sekadar tempat bongkar muat, melainkan pusat aktivitas ekonomi yang menghasilkan nilai tambah. Barang yang masuk harus bisa dikemas ulang, diberi label baru, bahkan diolah sebelum didistribusikan kembali ke negara lain. Dengan demikian, pelabuhan di Kepri akan memiliki daya saing tinggi secara regional.

Mimpi Besar yang Masih Mungkin

Presiden Joko Widodo pernah menggagas Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Namun selama ini, yang terlihat masih dermaga yang sepi dan pelabuhan yang lambat.

Kini, momen berada di depan mata:
Kepulauan Riau bisa menjadi titik tolak bangkitnya pelabuhan Indonesia. Bukan hanya mengejar Singapura, tapi membangun logistik yang berdikari dan modern. Dimulai dari pulau-pulau terdepan.

Jika Singapura bisa membangun dari lahan sempit, Kepri bisa bangkit dari laut luas. Dengan strategi cerdas, kepemimpinan berani, dan sistem yang efisien, maka pelabuhan masa depan Indonesia bisa lahir dari titik paling dekat dengan jantung perdagangan dunia yaitu Kepri sendiri.

Pos terkait