Pembunuhan Disertai Mutilasi di Tanjungpinang Terungkap, Motif Sakit Hati dan Dugaan Perencanaan

KABARTIGA.ID, Tanjungpinang – Kasus pembunuhan sadis disertai mutilasi yang menggemparkan Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, akhirnya menemui titik terang. Aparat kepolisian mengungkap bahwa aksi keji tersebut dipicu rasa sakit hati yang telah lama terpendam dalam rumah tangga pasangan Nasrun DJ (67) dan HA (52).

Peristiwa tragis ini mengejutkan masyarakat. Di balik kehidupan rumah tangga yang tampak biasa, tersimpan konflik berkepanjangan yang perlahan memuncak hingga berujung pada pembunuhan disertai mutilasi. Polisi menyebut persoalan harga diri dan perasaan tidak dihormati menjadi pemicu utama tindakan brutal tersebut.

Bacaan Lainnya

Kapolresta Tanjungpinang, Kombes Pol Indra Ranudikarta, menjelaskan bahwa pelaku mengaku menyimpan kekecewaan mendalam terhadap istrinya. Perasaan itu disebut semakin kuat setelah ia bebas dari lembaga pemasyarakatan dan kembali ke rumah.

“Motifnya karena sakit hati. Pelaku merasa tidak dihormati setelah keluar dari lapas,” ujar Indra, Sabtu (28/2/2026).

Menurut keterangan polisi, pertengkaran antara keduanya bukanlah hal baru. Sejak pelaku kembali ke kediaman mereka, cekcok kerap terjadi. Perselisihan rumah tangga yang berulang membuat emosi pelaku semakin tidak terkendali hingga akhirnya memicu niat menghabisi nyawa korban.

Dalam proses penyelidikan, polisi juga menemukan indikasi bahwa aksi pembunuhan tersebut tidak sepenuhnya spontan. Ada dugaan perencanaan sebelum pelaku melancarkan aksinya. Hal itu menguat setelah terungkap bahwa pelaku sempat memperhatikan sebuah sumur tua di kawasan Kampung Bulang saat berkunjung ke rumah kerabatnya.

Sumur tersebut diduga telah dipertimbangkan sebagai lokasi pembuangan bagian tubuh korban. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa tindakan pembunuhan disertai mutilasi tersebut telah direncanakan sebelumnya, bukan semata-mata akibat luapan emosi sesaat.

Kasus ini terungkap berawal dari kecurigaan anak perempuan pasangan tersebut yang tidak menemukan ibunya di rumah. Ia kemudian mencoba menghubungi sang ayah untuk menanyakan keberadaan korban.

Dalam percakapan tersebut, pelaku justru mengakui perbuatannya. Ia menyampaikan kepada anaknya bahwa dirinya telah membunuh istrinya. Mendapat pengakuan tersebut, pihak keluarga segera melapor kepada aparat kepolisian.

Kapolresta Tanjungpinang juga mengungkapkan bahwa pelaku belum sempat menyelesaikan proses mutilasi terhadap seluruh tubuh korban. Hal itu terjadi karena anak mereka lebih dulu mencari keberadaan sang ibu, sehingga pelaku tidak memiliki cukup waktu untuk melanjutkan aksinya.

Saat ini, penyidik masih terus mendalami kronologi lengkap kejadian serta mengumpulkan alat bukti tambahan guna memperkuat proses hukum terhadap pelaku. Kasus ini menjadi perhatian luas masyarakat dan menambah daftar panjang tindak kekerasan dalam rumah tangga yang berujung tragis.

Pos terkait