KABARTIGA.ID, Tanjungpinang – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Tanjungpinang mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. Pemerintah daerah menyoroti keterlibatan pelaku dari kalangan usia sekolah yang dinilai menjadi persoalan serius.
Berdasarkan data UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tanjungpinang, pada 2024 tercatat sebanyak 80 anak menjadi korban kekerasan dan 12 anak sebagai pelaku. Angka tersebut meningkat pada 2025 menjadi 99 anak korban dan 18 anak pelaku.
Sementara itu, kasus kekerasan terhadap perempuan juga mengalami kenaikan, dari 55 kasus pada 2024 menjadi 64 kasus pada 2025.
Hingga April 2026, UPTD PPA mencatat sebanyak 32 anak menjadi korban kekerasan dan 10 anak sebagai pelaku. Sedangkan jumlah perempuan yang menjadi korban kekerasan mencapai 17 orang.
Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang, Zulhidayat, mengatakan meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama karena mulai banyak pelaku berasal dari kalangan pelajar.
“Ini yang cukup memprihatinkan. Anak-anak sekolah ada yang terlibat sebagai pelaku kekerasan. Ini menjadi PR kita bersama,” kata Zulhidayat saat membuka pelatihan trauma healing dan pendampingan korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Aston Tanjungpinang Hotel & Conference Center, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, pemerintah kota mulai memperkuat pembinaan karakter dan pendidikan agama di sekolah. Salah satu program yang dijalankan yakni kegiatan mengaji selama 15 menit sebelum proses belajar mengajar dimulai.
Ia menyebutkan masih terdapat sekitar 300 siswa sekolah dasar dan 600 siswa sekolah menengah pertama yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Data tersebut saat ini sedang dipetakan untuk pembinaan lanjutan.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program pendampingan sosial dan keagamaan bagi anak-anak yang membutuhkan pembinaan khusus.
Zulhidayat juga meminta para petugas layanan mengedepankan empati dalam mendampingi korban kekerasan maupun korban TPPO.
“Korban yang datang harus dihormati dan dilayani sepenuh hati. Mereka membutuhkan tempat bercerita, didengar dan didampingi,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala DPPPAPM Kota Tanjungpinang, Marzul Hendri, mengatakan meningkatnya angka kasus juga menunjukkan masyarakat mulai berani melaporkan tindak kekerasan yang terjadi.
“Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak seperti fenomena gunung es. Sekarang masyarakat mulai berani speak up,” kata Marzul.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti 69 peserta yang terdiri dari guru, aparat kecamatan dan kelurahan, kepolisian, Satpol PP, hingga relawan pendamping korban.











