KABARTIGA.ID – Belakangan ini, media sosial dipenuhi berbagai potongan video yang mengklaim membongkar fakta-fakta besar yang selama ini dianggap tersembunyi. Salah satu yang kerap muncul adalah narasi tentang krisis ekonomi Asia 1998. Judulnya dibuat menggugah, isinya disusun dramatis, lalu dibagikan ribuan kali. Dalam hitungan jam, sebuah potongan video mampu membentuk opini yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipahami.
Fenomena ini menarik. Bukan karena teorinya selalu benar, melainkan karena menunjukkan bagaimana propaganda bekerja di era digital.
Propaganda modern tidak lagi hadir dalam bentuk poster atau pidato panjang. Ia hadir dalam video singkat, kutipan yang dipotong, serta narasi yang dirancang untuk memancing emosi. Di tangan algoritma media sosial, informasi yang paling sensasional sering kali menang dibandingkan informasi yang paling akurat.
Krisis 1998 adalah peristiwa yang kompleks. Banyak penelitian menunjukkan bahwa krisis tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global, mulai dari lemahnya fondasi ekonomi, tingginya utang swasta, krisis kepercayaan terhadap sektor keuangan, hingga gejolak pasar regional. Namun kompleksitas jarang menarik perhatian publik. Sebaliknya, cerita tentang adanya satu aktor tunggal yang menjadi dalang di balik seluruh peristiwa terasa lebih mudah dipahami dan lebih mudah dipercaya.
Di sinilah propaganda menemukan ruang hidupnya.
Ia menawarkan kesederhanaan di tengah kerumitan. Ia menghadirkan jawaban cepat ketika fakta membutuhkan penjelasan panjang. Dan yang paling penting, ia memberi kepuasan emosional karena menyediakan pihak yang dapat disalahkan.
Masyarakat hari ini sebenarnya tidak kekurangan informasi. Yang sering kurang adalah kesabaran untuk memeriksa informasi tersebut. Akibatnya, batas antara fakta, opini, dan propaganda menjadi semakin tipis. Apa yang sering diulang akhirnya dianggap benar, bukan karena telah dibuktikan, melainkan karena telah terdengar berkali-kali.
Karena itu, literasi publik menjadi semakin penting. Setiap informasi, terlebih yang mengklaim membongkar “rahasia besar”, semestinya ditempatkan dalam sikap kritis. Tidak semua yang viral adalah fakta, dan tidak semua yang terdengar meyakinkan adalah kebenaran.
Pada akhirnya, propaganda bukanlah ancaman karena ia berbohong. Propaganda menjadi berbahaya ketika masyarakat berhenti bertanya.
Sebab sejarah mengajarkan bahwa sebuah bangsa tidak hanya dapat tersesat oleh kebohongan, tetapi juga oleh kebenaran yang disampaikan setengah-setengah.Dan di era media sosial, sering kali yang setengah itulah yang paling cepat dipercaya.











