KABARTIGA.ID, Batam – Di tengah kehidupan masyarakat pesisir yang kaya akan kearifan lokal, lahir sebuah karya batik yang tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga merepresentasikan identitas dan nilai budaya. Batik Batu Gajah, demikian karya tersebut dinamai, digagas oleh seorang perajin muda, Rangga Gagak.
Rangga yang dikenal sebagai anak pulau ini menghadirkan batik dengan sentuhan cerita alam yang dituangkan dalam setiap motifnya. Batik Batu Gajah terinspirasi dari formasi batu alam yang kokoh dan berlapis, menyerupai sosok gajah yang melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan keteguhan hati.
Dalam filosofi yang diangkat, perpaduan antara unsur batu dan gajah mencerminkan pesan mendalam tentang pentingnya memiliki prinsip yang kuat, mampu menghadapi berbagai ujian, serta tetap bijaksana dalam menjalani kehidupan.
Secara visual, batik ini didominasi warna hitam yang memberikan kesan elegan dan misterius. Warna tersebut juga merepresentasikan kedalaman laut yang mengelilingi wilayah Belakang Padang. Motif batu yang disusun secara detail menghadirkan harmoni antara nilai tradisional dan sentuhan modern, sehingga cocok dikenakan dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun kasual.
Batik Batu Gajah dipasarkan dengan harga mulai dari Rp200.000 hingga Rp1.500.000. Rentang harga tersebut dinilai sepadan dengan kualitas, nilai seni, serta proses kreatif yang dilalui. Produk ini tidak hanya menyasar pasar premium, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat luas untuk memiliki karya batik bernilai budaya tinggi.
Rangga Gagak menyebut, batik yang diciptakannya bukan sekadar produk komersial, melainkan bagian dari perjalanan batin dan identitas dirinya sebagai anak daerah.
“Batik Batu Gajah ini bukan hanya tentang motif, tapi tentang cerita kampung yang dijuluki Pulau Penawar Rindu. Tentang batu-batu yang diam, tapi menyimpan kekuatan besar. Saya ingin setiap orang yang memakainya merasakan keteguhan itu,” ujarnya, Minggu (3/5).
Ia juga berharap karyanya dapat dikenal lebih luas hingga ke tingkat nasional dan internasional.
“Saya berharap Batik Batu Gajah bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di Belakang Padang atau Batam, tetapi juga menembus tingkat nasional bahkan internasional. Ini adalah cara saya membawa nama kampung kecil kami ke panggung dunia,” ungkapnya.
Melalui Batik Batu Gajah, Rangga tidak hanya menghadirkan produk fesyen, tetapi juga menyampaikan narasi tentang alam, budaya, dan harapan. Karya ini diharapkan menjadi angin segar bagi pelestarian budaya lokal sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat pesisir, khususnya di Belakang Padang.











